Kota Bima-MP-Kota Bima kembali memukau mata dunia dengan gelarnya Pawai Rimpu Mantika pada setiap hari ulang tahun Kota Bima yang dilaksanakan setiap bulan April.Acara tahunan yang menjadi bukti kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat ini semakin istimewa dan bermakna berkat kehadiran dua sosok wanita hebat yang layak disapa sebagai “Dua Sri Kandi” masa kini.
Mereka adalah Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bima. Kedua tokoh ini turut serta berjalan beriringan bersama ribuan peserta lainnya, mengenakan busana adat dengan penuh keanggunan dan wibawa.
Dengan langkah mereka yang tegap namun lembut, senyum yang ramah, serta sikap yang rendah hati seolah menjadi teladan nyata bagi seluruh masyarakat. Kehadiran mereka membuktikan bahwa jabatan dan status tidak menjadi penghalang untuk tetap mencintai dan melestarikan akar budaya sendiri. Mereka adalah perwujudan nyata perempuan tangguh yang tetap menjaga kesopanan dan keanggunan untuk melestarikan budaya lokal bersama masyarakat.
Menurut beliau Wagub,Umi dinda,Rimpu Mantika memiliki makna yang sangat dalam, bukan hanya sekadar busana adat, melainkan cerminan karakter perempuan Bima.
“Rimpu Mantika ini adalah simbol kesopanan, kelembutan, dan martabat kita sebagai perempuan Bima. Cara kita memakainya yang rapi dan menutup aurat mengajarkan kita untuk selalu menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Ini warisan yang sangat berharga dari nenek moyang kita.”
Wagub, Umi dinda menekankan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini sangat selaras dengan program pembinaan keluarga yang selama ini digalakkan oleh PKK.”Tutupnya.
Selanjutnya Ketua PKK Umi Badra,menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat dan melestarikan budaya daerah melalui berbagai kegiatan.
“Sebagai organisasi yang bergerak di tengah masyarakat, PKK Kota Bima sangat mendukung penuh kegiatan seperti ini. Kami ingin mengajak seluruh ibu-ibu dan kader PKK agar selalu mencintai budaya sendiri. Mari kita jadikan pakaian adat ini sebagai kebanggaan,bukan hanya saat acara pawai, tapi juga dalam kegiatan sehari-hari.”
Partisipasi beliau dalam pawai ini menjadi contoh nyata bahwa PKK hadir menyatu dengan masyarakat, menjaga tradisi, sekaligus mempererat tali persaudaraan.
Di akhir perbincangannya dengan awak media Metro pembaharuan, Ketua PKK Kota Bima umi Badra berpesan agar tradisi ini tidak putus di tengah gempuran zaman.
“Kita tidak boleh melupakan akar budaya kita. Mari kita ajarkan anak-anak dan cucu-cucu kita cara memakai Rimpu yang benar, mengenal motif tenun, dan memahami artinya. Agar kelak mereka juga ikut menjaga dan mencintai identitas bangsa sendiri.”Tutupnya”.(Yuli)
Metropembaharuancq Tajam dan Terpercaya